Kuantar Pulang 8: Di Atas Ambulans


"Saya liat dia menguning, penyakit kuning, dirujuk ke Makassar ya, agar dirawat lebih intens," kata dokter Rep padaku.

"Kapan siap berangkat," lanjutnya bertanya padaku.

Memang setiap keputusan dari pihak keluarga selalu aku yang memberi kepastian. Aku benar-benar menjadi penentu setiap langkah keluargaku. Mungkin karena aku satu-satunya yang menyandang gelar sarjana dari delapan bersaudara. Adikku dua orang masih berjuang di bangku kuliah, satu di SMA satu lagi jadi pemuda tangguh di ladang-sawah, hanya lulus SD. Sedang tiga kakakku menjalani rumah tangga, mereka hanya mampu finish di bangku sekolah menengah pertama.

"Kami tidak keberatan, kapan saja dok," jawabku tegas saat itu, tak ada cita-cita kecuali Bapak segera sembuh. Hanya itu dalam benakku. Iya. Hanya itu yang kupirkan lalu membangkitkan ketegasanku berkata pada dokter ahli penyakit dalam itu. Aku berpikir lebih cepat lebih baik, seperti tagline Jusuf Kalla ketika menjadi capres. Aku benar-benar menghendaki Bapakku segera dirujuk ke Rumah Sakit berkelas internasional yang dibanggakan orang-orang itu.

Ketika itu kulihat mata Bapak berkaca-kaca. Aku menyaksikan aura berontak di matanya. Pun dari gestur mukanya dapat pula kubaca dirinya seperti tak setuju dibawa ke Makassar. Entah apa yang ia pikirkan. Aku tidak tahu. Yang aku tahu selama hidup Bapak tidak pernah menolak jika aku membujuknya, termasuk ketika pergi ke rumah sakit. Meski ia begitu tak suka dengan suasana rumah sakit tapi ia takkan pernah menolak jika aku yang menawarkan. Ini bukan kali pertama kuajak dia ke rumah sakit. Tapi memang ini kali pertama ia harus berhadapan dengan infus. Kali ini ia dirawat inap.

"Baik Silakan ambil ini, nanti malam berangkat," dokter Rep menyodorkan kertas kecil terdapat tulisan yang tak bisa ku baca tetapi jelas kumengerti bahwa itu adalah resep, apa tak lagi ia menegaskan tentang kertas itu sebelum beranjak pergi meninggalkan kamar perawatan.

"Ambilkan obat di apotek," katanya berlalu.

Dokter Rep berlalu meninggalkan kami berdua, Bapak masih merintih menahan sakit di perut bagian kanan. Semalam ia menjelaskan bahwa rasa sakit itu mulai menjalar keseluruh bagian rongga perutnya. Ya Tuhan, aku tak bisa berbuat apapun untuk menghalau rasa sakit itu. Pikiranku kacau.

Perlahan aku geser tirai berwarna hijau yang membatasi bilik-bilik perawatan pasien di ruangan ini. Ruang perawatan kelas 3. Di samping kiri dan kanan kudengar mereka orang-orang yang sama merintis sakit. Mereka sungguh malang. Dan aku yakin tak ada do'a diantara mereka kecuali meminta untuk segera sembuh, pulang ke rumah dan berkumpul bersama orang-orang terkasih mereka. Kubuka tirai hijau itu dan aku keluar meninggalkan Bapak seorang diri. Aku pergi menuju sudut sana, orang-orang menyebut sudut itu dengan apotek. Sebuah gedung di sudut rumah sakit sana. Gedungnya terpisah. Entah berapa kali aku harus ke sini? Karena hampir setiap pagi dan petang tak pernah absen kudatangi gedung ini. Mengambil obat, infus dan alat perawatan medis lainnya untuk Bapaku. Hatiku terus menjerit menangis, tetapi air mata sudah mengering. Aku tetap tegar karena masih percaya Bapak akan sembuh dan Tuhan menyayangi kami. Pun orang-orang yang di samping kiri kanan dan semua yang berada di gedung ini. Yang terbaring lemah tak berdaya. Kuyakin semuanya akan pulang dengan hati yang riang menemui rumah mereka.

"Pasiennya mau dirujuk ya," seorang perempuan pegawai Apotek bertanya padaku.

"Iya," jawabku singkat.

Rupanya untuk obat kali ini adalah persiapan selama dalam perjalanan di atas ambulans.

"Tunggu ya," katanya melemparku senyum lebar. Sepintas kuperhatiakan mukanya oval dengan alis mata melengkung, bulu mata lentik, sedikit lesung pipi mengihiasi senyum manisnya. Ia mengenakan busana batik. Baju khas muslimah dengan motif Lopi Sandeq tampak memikat dipadukan jilbab putih dan sebuah bros berbentuk bunga mawar menghiasi jilbabnya. Aku melihatnya dari bilik kaca yang tipis usai ia memutar badan membelakangi aku di depan loket penerimaan resep. Sepintas berlalu ia menghilang ke dalam sebuah ruangan dalam gedung apotek.

***

Suara sirine meraung-raung meninggalkan kota kecil ini. Di atas ambulans kami memegang erat sebuah tandu. Aku di bagian kepala sedang kakakku Ardi di bagian kaki Bapak. Kami menjaga, mempertahankan agar posisi itu tak berubah agar Bapak tidak goyang di atas tandu kecil itu.

Bapak terus berupaya menahan rasa sakit. Baring tak enak, duduk pun tak nyaman, ia begitu gelisa sedang kami harus menjaga posisi tandu. Tak jarang ia meminta dibangunkan karena tak punya energi lagi untuk mmbangunkan badannya seorang diri. Aku dan kakakku Ardi silih berganti membangunkan, kadang juga harus berdua. Mirisnya, tak lebih dari lima menit duduk dengan sebuah guling dieratkan ke perut, ia bakal minta ditidurkan kembali. Tak lama kembali akan minta dibangunkan. Seperti itu yang terus berulang dalam perjalanan ini, di atas ambulans.

Aku melihat selang infus membelit di tangannya. Di ujung selang sebuah botol plastik menggantung di atas sebuah rongga kecil yang sengaja dibentuk dengan model yang begitu apik di atas ambulans. Jam di tanganku menunjukkan pukul 3:00. Ambulans masih meraung-raung kami menuju batas kota, tak lama tiba di tujuan.

"Beaa uhai," kudengar suara Bapak pelan sangat pelan.

Aku berbegas menyambar sebuah botol air mineral.

"Ini, ini airnya," kataku menyodorkan.

"Usap ke bibirku saja," kata Bapak memandangku singkat, wajahnya dilempar ke jendela ambulans. Sangat sulit berpandang mata dengan Bapak beberapa hari terakhir ini. Ia seperti tak mau menatap wajahku, Ardi, pun kakakku yang perempuan yang saat itu juga ikut di dalam ambulans. Ia di depan dengan seorang sopir. Di belakang hanya ada aku, kakakku Ardi dan seorang perawat perempuan yang selalu setia membetulkan selang infus agar berjalan normal.

Jujur kami anak-anaknya sangat sulit berpandang mata dengan Bapak akhir-akhir ini. Ia selalu melempar pandangan mata ke lain tempat jika kami menatapnya dalam-dalam.

"Usapkan lagi ke bibirku."

"Iye, Pa ... ," kataku pelan, kuredam bola salju agar tak keluar dari mataku yang dingin di dalam ambulans yang full AC.

"Sabar ya Pak, sebentar lagi kita sampai," suster Re menenagkan Bapakku dengan suara yang begitu halus. Ia seperti berbicara pada seorang kekasih hatinya saat mereka tengah kasmaran.

Suster ini sepertinya tak asing di mataku. Iya. Setidaknya aku pernah satu sekolah saat SMA. Tapi sudah, aku tak begitu memikirkan dia.

BERSAMBUNG

Foto Ilustrasi (suara merdeka via lakonhidup.com)

Comments

Popular posts from this blog

Ingin Kembali ke Rumah, Tapi Aku Bukan Anak Ayah Lagi

Berikut adalah Nama-nama 18 Tomakaka di Ulumanda

Hikayat Ramadan di Relung Sepi Taukong