Hikayat Ramadan di Relung Sepi Taukong
Oleh: Egi Amin
Dari episentrum Mandar di muara sungai Tinambung aku mulai menghitung jarak. 1,2, 3 ... dan 175 kilometer ke utara. Dari sanalah di kaki gunung Tandeallo suasana petang mulai menyebar ke seantero relung senja, menyapa mayapada yang diterpai angin sepoi basah. Aliran sungai Batupiring yang jernih itu masih setia. Suara gemericik air yang semakin jelas terdengar. Dan rintik hujan kecil yang turun membasahi bumi baru saja berlalu, mengundang segala bentuk kehidupan di sekitar untuk bergembira.
Ramadan telah datang ! Di sebuah rumah panggung yang tak jauh dari aliran sungai itu, anak-anak kecil bersorak-sorai dengan gembira. Mereka sudah menunggu-nunggu momen istimewa ini sejak lama. Momen di mana bulan Ramadan datang dan semaraknya suasana.
Aku sendiri hanya bisa menatap, mematung. Membayangkan sesosok wajah ibu dari jendela bilik. Ibu yang selalu ada di setiap momen Ramadan, memberikan semangat dan kebahagiaan bagi keluarga sederhana kami.
Aku teringat dengan ayah. Yang pun sudah tiada. Dia adalah sosok yang penuh kasih sayang dan selalu membimbing kami dalam kehidupan. Namun, kenangan itu hanya menjadi cerita dalam benakku saat ini.
Dalam semaraknya Ramadan, kami selalu bersama-sama merayakan. Dalam suasana yang penuh kegembiraan, ibu menghidangkan hidangan yang lezat dan menyegarkan untuk kami semua, walau kadang apa adanya tetapi di rumah kami bak hidup di alam syurgawi sebagaimana yang dikisahkan dalam kitab-kitab samawi. Kami duduk bersama di dalam rumah panggung sambil menikmati hidangan yang disajikan. Delapan pasang mata yang nanar duduk berebut kasih sayang seorang ayah dan ibu. Ya. Kami delapan bersaydara yang kini telah bercerai-berai, masing-masing pergi menjalani takdir kehidupanya. Tak ada keluh dan kesah di waktu kami kecil dan ketika ayah-ibu kami masih ada. Mereka membesarkan kami dengan keikhlasan yang menjadi juru kebahagiaan dalam kehidupan orang-orang kebanyakan di kampung seperti kami.
Malam-malam di bulan Ramadan di Taukong selalu penuh dengan doa dan ibadah. Kami bersama-sama warga kampung melakukan shalat Tarawih dan membaca Al-Quran. Suara azan yang terdengar dari masjid besar di desa itu memberikan kekuatan dan semangat bagi kami semua.
Hari-hari Ramadan berlalu begitu cepat. Namun, semangat dan kenangan selalu terus hidup dalam benak kami. Di setiap tahunnya, kami akan selalu merayakan bulan Ramadan dengan penuh semangat dan kebahagiaan.
Sekarang, aku kembali menatap sosok ibu dari jendela bilik. Dia adalah sosok yang selalu memberikan kebahagiaan dan semangat bagi keluarga kami. Meskipun sudah tiada, ibu dan ayah kami selalu ada di setiap momen penting dalam kehidupan kami seperti Ramadan kali ini. Kami bertemu dalam do'a-do'a yang dipanjatkan.
Dan aku kembali pada pikirku seketika, suasana petang di kaki gunung Tandeallo semakin memudar. Malam telah datang, dan pada akhirnya semaraknya Ramadan di Taukong akan berakhir. Namun, semangat dan kenangan selalu tetap hidup dalam benak kami. Kita semua menyadari bahwa Ramadan adalah momen yang sangat penting bagi umat Muslim dimanapun. (*)
.jpeg)
Comments
Post a Comment