Posts

Showing posts with the label > Kisah

Mengenal Ada' Tuho; History & Prediksi Masa Mendatang (I)

Image
Acara Passorong, salah satu ritual Sakka Pambojangang atau Pa'banne Tauang. [Dok: Harmegi Amin] Secara etimologi Ada' Tuho terdiri dari dua kata, yaitu ada' yang berarti adat (kebiasaan) dan tuho yang berarti hidup. Jadi sederhananya Ada' Tuho dapat diterjemahkan sebagai adat atau kebiasaan yang hidup atau kehidupan. Adat yang menghargai hidup dan menjunjung tinggi harkat dan martabat kehidupan manusia sebagai ciptaan Tuhan yang sangat berharga. History Ada' Tuho Sebelum bicara jauh tentang Ada' Tuho, terlebih dahulu akan kami singgung soal adat Kondosapata dan istilah Uhai Sappaleleang yang sangat akrab di kalangan masyarakat Ulu Salu, termasuk Ulumanda.  Kata uhai sappaleleang ini merujuk pada hukum Ada' Tuho. Uhai artinya air, sedangkan sappalelang adalah kata yang diadaptasi dari nipalele yang artinya dialirkan atau dibagikan. Oleh Bapak Saparuddin Daeng Padjala (adik kandung tomakaka Ulumanda Fachri Daeng Padjala) dikatakan bahwa uhai sappaleleang ada...

Kuantar Pulang 8: Di Atas Ambulans

Image
"Saya liat dia menguning, penyakit kuning, dirujuk ke Makassar ya, agar dirawat lebih intens," kata dokter Rep padaku. "Kapan siap berangkat," lanjutnya bertanya padaku. Memang setiap keputusan dari pihak keluarga selalu aku yang memberi kepastian. Aku benar-benar menjadi penentu setiap langkah keluargaku. Mungkin karena aku satu-satunya yang menyandang gelar sarjana dari delapan bersaudara. Adikku dua orang masih berjuang di bangku kuliah, satu di SMA satu lagi jadi pemuda tangguh di ladang-sawah, hanya lulus SD. Sedang tiga kakakku menjalani rumah tangga, mereka hanya mampu finish di bangku sekolah menengah pertama. "Kami tidak keberatan, kapan saja dok," jawabku tegas saat itu, tak ada cita-cita kecuali Bapak segera sembuh. Hanya itu dalam benakku. Iya. Hanya itu yang kupirkan lalu membangkitkan ketegasanku berkata pada dokter ahli penyakit dalam itu. Aku berpikir lebih cepat lebih baik, seperti tagline Jusuf Kalla ketika menjadi capres. Aku be...

Kuntar Pulang 7: "Bapak Pasti Sembuh"

Image
Ilustrasi (sumber: inet) Matahari cerah bertahta di atas kepala. Udara menyengat dan aroma aspal menyeruak ke hidung. Sedang orang-orang berjenis kelamin sama tampak berhamburan keluar masjid. Mereka memakai peci, sarung dan mengalungkan sejadah di leher. Pulang dari Jumatan. Bicara soal masjid, di kota ini memang tak sedikit ditemui. Wajar jika setiap masuk waktu sholat, ribuan toa dari ratusan menara bakal berdendang kalam Tuhan. Ayat-ayat suci hingga panggilanNya bakal menyeruak ke udara kota kecil ini. Kenyataan ini sekaligus menjadikan kota tua ini menjadi khas. Penduduknya juga dikenal taat, agamais. Tentang kota ini, ia punya sejarah cukup panjang. Di zamannya kota kecil ini menjadi pusat peradaban manusia Mandar. Tak salah jika pemerintah Hindia-Belanda menunjuk kota ini sebagai pusat pemerintah Afdeling. Tapi itu dahulu kala, toh tak banyak yang berubah dari kota ini. Wajahnya masih sama kendati kota lain di sekitarnya bebenah dengan solek yang lebih megah. Yang ini ma...

Kuantar Pulang 6: Terima Kasih Dok

Image
Ilustrasi (foto:inet) Pukul 16:00, baru saja kusudahi salam ashar. Aku beranjak dari bermunajat pada Tuhan atas sehat yang diberi di atas buminya. Setidaknya itu yang kupikirkan sebelum mengambil wudhu dan mengangkat tangan takbiratul iqram. Sedianya, sore ini akan berangkat ke lapangan. Mengumpulkan puing-puing kata hingga padu jadi satu naskah berita. Tapi, entah mengapa malas menyandera seluruh jiwa ragaku. Pesta rakyat di sana pun tak kupedulikan, sesungguhnya lapangan itu tak jauh dari tempatku di kota. Kuhiraukan saja bahan liputan untuk itu. Aku memilih diam merenung di teras depan rumah kecil yang kukontrak lebih setahun ini. Mataku menatap ke depan, memandangi pohon-pohon mangga yang berjejer tak rapi. Kupandangi buah mangga itu yang tampak mulai menguning di atas sana, sedang daunnya rimbun menari-nari di atas seng rumah tetangga. Kulihat pula anak-anak mulai berdatangan bersiap mengaji, mereka meneduh di bawah pohon mangga sambil bermain. Dan seketika pula muncul sos...

Kuantar Pulang 5: Air Bening di Ujung Mata

Image
Foto Ilustrasi (sumber: inet) Pagi buta bapak bangun dari tidur usai subuh nan dingin. Di balut rasa sakit ia tampak kuat, tak ada kesah yang telalu selayaknya orang sakit kebanyakan. Bahkan, ketika matahari mulai muncul bapak bangkit dari rasa sakit. Bukankah semalam ia menggigil menahan nyeri. Iya. Tapi pagi ini bak semuanya terlupakan, hilang bersama perginya sang fajar. "Saya mau ke sawah," kata bapak kala itu. Mata binar kakakku yang perempuan pun menatap nanar. Ia heran atas tingkah bapak yang di luar nalarnya. "Untuk apa, bapak kan sakit," tanya kakakku yang perempuan itu. "Tidak apa-apa. Saya hanya ingin melihat-lihat sawah," jawabnya. Tak bisa dihalau lagi bapak segera bangkit, mengambil baju, memasang celana panjang dan pakai topi sebagaimana lazimnya ketika ia hendak berladang, pergi ke kebun kopi, kebun kakao atau mencari rotan ke hutan. Selama 40 tahun lebih bapak memang hidup dengan terpaan kerasnya kehidupan. Menjadi pelad...

Perempuan Pembelajar Dari Cirebon

Image
Kadek Trisnanty (Foto: Egi) Rambutnya lurus dengan mata agak sipit. Muka bulat dengan wajah kalem. Sedikit tampak lesung pipi mempercantik senyum gadis bernama lengkap Ida Ayu Kadek Trisnanty ini. Ia akrab dipanggil Kadek. Mendengar namanya pasti terlintas bahwa gadis ini berdarah Bali. Benar, tapi lahir dan besar di Kota Cirebon, Jawa Barat. Malam itu Kadek menjadi satu dari 15 relawan Kelas Inspirasi 4 Majene. Ia tergabung dalam Tim 10 SD Negeri 35 Coci. Datang jauh-jauh dari Jakarta untuk ikut Kelas Inspirasi di Majene. Memang, selama ini Kadek tinggal di Jakarta. Bekerja sebagai business analyst di sebuah perusahaan di ibu kota. Tapi yang pasti, malam ini bukan macet dan hiruk-pikuk Jakarta yang menantang Kadek seperti biasanya, melainkan lumpur, sungai dan gelap malam menuju dusun. Ke Coci kami pergi. Sebenarnya ini bukanlah situasi baru baginya, sebelumnya lulusan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia ini pernah menjelajah pegunungan Kecamatan Ulumanda, Majene...

Malam Inspirasi dari Coci

Image
Relawan KI Tim SD Negeri 35 Coci menyebrang sungai (Foto: Egi amin) Sekira pukul 21:45 kami tiba di Dusun Coci. Hujan menemani separuh perjalanan hingga tubuh basah kedinginan. Tiba di sekolah, kami berjejer di pinggir teras depan pintu, membersihkan lumpur-lumpur dari kaki, tangan hingga ke tubuh dari air hujan yang mengalir melalui atap seng. Lalu masuk ke ruang kelas. Membentuk satuan terpisah laki-laki dan perempuan. Ketika itu hujan masih mengguyur sekeliling. Malam ini cukup menentang, sekitar 3 kilometer berjalan kaki. Menapaki jalan bebatuan dan lumpur lagi gelap. Menyebrangi sungai dengan lebar tak kurang dari 30 meter. Beruntung ada senter dari dua orang kawan. Lumayanlah untuk penerang. Selebihnya mengandalkan handphone dan naluri kebathinan atau mungkin ini yang disebut mata hati. Kami mendaki. Berjibaku dengan lumpur. Berjuang pasti. Tapi bukan hal yang cukup memberatkan bagi kami. Bukan relawan kalau mengeluh, kata seorang kawan sok kuat. Dan, inilah SD Negeri 15...

Kuantar Pulang 4: Mata Bapak yang Liar

Image
Foto: Beritalangitan.com Mata Bapak yang Liar Bapak duduk di kursi kayu. Matanya liar memandangi satu persatu isi rumah. Tak lama duduk, ia bangkit berdiri, berjalan mengitari seisi rumah panggung kami. Masuk kamar kami, lalu keluar, menuju ke semua sudut sambil matanya memperhatikan seksama barang-barang bekas dan benda dalam rumah. Bahkan, dua lemari kaca turut dibuka satu persatu. Entah apa maksudnya, bapak seolah memeriksa semua keadaan. "Ada apa," tanya kakakku yang perempuan. "Tidak, saya lama tidak memeriksa rumah dan barang-barang ini," kata bapak melempar pandangan ke arah tak menentu. Memang, akhir-akhir ini teramat sulit menatap mata bapak. Entah kenapa ia selalu berpaling dari tatapan orang. Hingga si kecil, anak kedua dari kakakku yang perempuan pun menjadi seolah sesuatu yang lain. Tak seperti biasa, Diba, nama anak kedua kakakku itu seperti biasa saja di mata bapak. Sungguh aneh, Diba yang lagi lucu-lucunya menjadi sosok yang seolah tak...

Kisah Pengantin Meninggal di Jam Ijab Kabul

Image
SUNGGUMINASA - Nahas dialami La Ode Muhammad Khalid, Pria (20). Mahasiswa Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP) ini harus rela kehilangan calon isterinya, Rusmita Daeng Rannu (20) saat prosesi pernikahan akan dilangsungkan. Itha panggilan akrab almarhumah, menghembuskan nafas terakhirnya di jam ketika dia harus mendengar Muhammad Khalid sang pujaan hati seharusnya mengucap ijab kabul. Akibatnya, tenda yang didirikan sedianya untuk para tetamu undangan pernikahan, justru dipenuhi oleh pelayat yang mengucapkan belasungkawa. Paman Almarhumah Daeng Rala yang ditemui di rumah duka di Bonto Bado, Desa Kallemandale, Kecamatan Bajeng Barat menceritakan, satu minggu sebelum ijab kabul dilangsungkan, Itha jatuh sakit. Padahal selama ini, almarhumah tak mengidap penyakit apapun. Setelah tersentuh medis, almarhumah yang juga mahasiswa PNUP ini didiagnosa menderita tipes dan akhirnya meninggal, Rabu (8/11) "Sudah tiga hari memang dirawat di ICU sebelum akhirnya Almarhumah meninggal di jam s...

Kuantar Pulang 3: Bapak Dalam Kenangan

Image
Foto: metrocebo.com Bapak Dalam Kenangan Suatu sore yang indah. Nuansa hening menyelimuti desa kami. Tak ada suara kecuali kicau burung yang seirama nyanyian angin. Kakakku yang perempuan duduk di beranda rumah panggung. Rumah kami ketika belum dirobohkan, atau lebih tepatnya direhab. Di depan terbentang gunung mengitari kampung. Pohon-pohon berjajar asri. Ada dedaun rumbiah menari-nari tak jauh dari atap rumah tetangga. Yang ketika pagi aku biasanya duduk menatapi dedaun itu. Karena konon, menatap dedaun hijau akan menjernihkan mata, lantas itulah jarang kulewatkan pagi duduk di teras jika aku sedang di desa. Sore ini aku tak di situ, melainkan di kota, kakakkulah yang duduk di situ, di sebuah kursi kayu nan tua. Seingatku kursi itu buatan bapak dikala aku masih SD. Dan tiba-tiba mata kakakku melotot kaget, seorang pria tua muncul di hadapannya mendadak. Ya, bapak. Tak disangka dia datang jauh dari kota. Ia muncul dengan baju kemejanya, celana kain berwarna hitam dan topi yan...

Menyambangi Warga Ulumanda di Balikpapan

Image
Sore itu sekitar pukul 15.00 WITA, mentari masih terasa menyengat ketika kami turun dari sebuah mobil honda jaz milik warga Tenggarong Kutai Kartanegara. Tepat di sebuah rumah mugil di atas bukit, kami bertiga turun dari mobil itu. Sang Sopir lalu berkata, bahwa ia hendak melanjutkan perjalanannya untuk kembali ke Kutai Kartanegara. Kami pun mengucap terima kasih telah bersedia mengantar hingga ke Balikpapan. Oh ya, honda jaz itu kami rental (carter) kurang lebih 4 jam perjalanan Tenggarong-Balikpapan. Sewanya lumayan Rp. 500 ribu. 😆 Perjalanan kami dari Tenggarong ini adalah dalam rangka mengikuti Uji Kompetensi Wartawan (UKW) di Bumi Etam Kutar. Saat mobil melaju turun dari bukit hendak meninggalkan KM 5 dan tentunya meninggalkan kami, seorang pria muda yang sedari tadi menjemput kami hingga ke jalan poros turun dari motor. Ia membuka pagar. "Ayo, silahkan masuk," kata pria itu. Saya dan lelaki itu tentu tak saling canggung. Dalam bahasa daerah pa'nei (bahas...

Kuantar Pulang 2: Ke Bukit Itu Kami Pergi

Image
Foto via Solopos.com Ke Bukit Itu Kami Pergi Malam itu aku tak bisa tidur. Hatiku gelisah, pikiran melayang jauh menjumpai kenangan masa kecilku. Aku memilikirkan banyak hal tentang bapak. Dulu ia lelaki perkasa, ulet dan tak pernah sakit. Kuasa Tuhan, kini wajah bapak berubah tampak lesuh. Kulitnya mulai keriput dan sakit-sakitan. Tapi ia masih tampak muda, umurnya memang baru sekitar 58 tahun. Oh ya, tiga bulan lalu, tepatnya bulan puasa, aku mengantar bapak ke sebuah klinik. Usai dironseng dan terima resep dokter, kami balik ke rumah kontrakan. Berkat minum obat rasa sakit di perut bapak kini mulai berkurang. Dokter menjelaskan bahwa kondisinya baik-baik saja. Pun ketika kuantar cek di rumah sakit dua pekan kemudian, bapak dalam kondisi sehat. "Fungsi hati dan ginjal baik," kata dokter yang memeriksanya. Aku pun membiarkan bapak pulang ke desa. "Saya ingin pulang dulu, sebab rumah kita mau diperbaiki," kata bapak padaku suatu malam. Awalnya aku mel...

Kenalkan Namaku Dwi Ani

Image
Namaku Dewi Ani, biasa dipanggil Dewi. Sejak kecil aku selalu hidup mandiri tanpa kasih sayang kedua orang tua selayaknya teman sebaya. Dalam keseharian jarang kujumpai ayah dan ibu, mereka sibuk dengan rutinitas masing-masing tanpa menghiraukan aku. Padahal, usiaku saat itu masih terlalu dini bila harus segalanya hidup mandiri tanpa peduli mereka. Suatu hari saat bulan puasa tiba,  sekolah mengadakan pesantren kilat dan acara buka bersama. Setiap teman sekolah yang kulihat, mereka sanggup ceria kembangkan senyum indahnya, sedang aku tidak. Aku tidak bernasib seperti teman lain, yang dipersiapkan bekal lengkap untuk berbuka, baju rapih dengan kerudung indah distrika.Saat ceramah agama dimulai, aku mendengarkan dengan seksama.Sesekali aku ikut tersenyum mendengar cerita lucu guru, namun saat guru bercerita tentang keluarga yang harmonis justru aku sedih, sebab apa yang aku rasakan sungguh jauh berbeda. Ayahku sering pergi dan jarang di rumah, sedang ibu berangkat subuh dan pu...

Kuantar Pulang 1

Image
Kuantar Pulang Hujan baru saja redah, suasana terasa dingin, basah seisi bumi di kampung kami. Mulutku masih melafadzkan kalimat tauhid Lailaha Illallah, beberapa orang turut membaca kalimat itu. Ada hening sejenak, lalu terdengar isak tangis memecah kesunyian. Orang-orang yang hadir tampak histeris. Semua mata sembab, bahkan beberapa wanita nyaris tak sadarkan diri. Innalillahi wainna ilaihi radjiun. Sesunggukan orang menangis, tak ada yang dapat menahan gejolak hati yang perih. Tatapanku kini fokus pada sesosok wajah kaku di hadapanku. Hatiku tersayat, tetapi sadar kehidupan memang ibarat dua sisi mata uang yang selalu bersinggungan. Ada kelahiran dan ada kematian, ada tangis dan ada tawa, bahagia dan duka. Dan bahwa kepergian orang-orang terkasih akan selalu menghadirkan duka dan penyesalan di hati orang yang ditinggalkan. Betapapun kita menolaknya, takkan pernah lari dari kematian. Aku memeluk erat bapakku. Hati ini rapuh saat tak lagi merasakan balas pelukan cinta dari ...