Posts

Showing posts with the label Fiksi

Hikayat Ramadan di Relung Sepi Taukong

Image
Oleh: Egi Amin Dari episentrum Mandar di muara sungai Tinambung aku mulai menghitung jarak. 1,2, 3 ... dan 175 kilometer ke utara. Dari sanalah di kaki gunung Tandeallo suasana petang mulai menyebar ke seantero relung senja, menyapa mayapada yang diterpai angin sepoi basah. Aliran sungai Batupiring yang jernih itu masih setia. Suara gemericik air yang semakin jelas terdengar. Dan rintik hujan kecil yang turun membasahi bumi baru saja berlalu, mengundang segala bentuk kehidupan di sekitar untuk bergembira. Ramadan telah datang ! Di sebuah rumah panggung yang tak jauh dari aliran sungai itu, anak-anak kecil bersorak-sorai dengan gembira. Mereka sudah menunggu-nunggu momen istimewa ini sejak lama. Momen di mana bulan Ramadan datang dan semaraknya suasana. Aku sendiri hanya bisa menatap, mematung. Membayangkan sesosok wajah ibu dari jendela bilik. Ibu yang selalu ada di setiap momen Ramadan, memberikan semangat dan kebahagiaan bagi keluarga sederhana kami. Aku teringat dengan ayah. Yang pu...

Ingin Kembali ke Rumah, Tapi Aku Bukan Anak Ayah Lagi

Image
Purnama menerang di jagat sepi kota ini. Sinar-sinar kemilau lampu mercury kota menyapa dedaun ketapang di bawah terang bulan. Di sudut sana, denting kecapi mengalunkan tembang sayang-sayang . Anak-anak Mandar tengah bersenandung kalindaqdaq . Oh ini sudah purnama yang ketujuh. Aku masih saja merengek-rengek meminta maaf ayah. Betapa kuketuk pintu hatinya tapi masih saja dia mengeras bak tembok-tembok di ujung jalan. Aku menatapi terang bulan itu yang sempurna. Di hadapanku terbentang teluk Mandar yang bersolek rupawan diterpai angin dan denting ombak yang menyeruak ke bibir pantai. Tapi aku di sini, sungguh terhina dan malu di muka purnama yang tersenyum padaku. Aku tak bisa apa dan hanya mampu menangis, meminta ampun dosa dan mengelus dada, meratapi nasib darah dagingku yang kelak akan menanggung malu. "Ini tanah beradat, keluargaku orang terhormat," tergiang-giang kata ayah di telingaku. Sudah tujuh bulan aku menikah dengan Haris, namun ibu dan ayahku enggan m...

Aku Mencintaimu, Kekasih

Image
Kekasih Aku mencintaimu Seperti matahari yang terbit di ufuk timur lalu sirna di langit barat Tak pernah berhenti dari jutaan abad silam kala semesta raya digelar sang khalik Selalu dan akan tetap ada selama dunia belum kiamat walau terkadang mendung menyembunyikannya meski hujan kerap menghadangnya Kekasih Aku menyukaimu Semisal hujan yang merelai tubuhnya jatuh dari langit Lalu menyiram pucuk dan daun daun bunga Hingga mawar melati merekah, tercipta panorama merasuk sukma Kupu kupu pun tersenyum lepas Terbang bebas menghisap sari kelopak putik Kekasih Aku menyayangimu Seumpama lilin yang membiarkan jasadnya leleh lalu lenyap Tetap tabah membakar nyala Meski ia tahu bahwa cahayanya sebentar lagi sirna Tanda tak sudi jika gulita menyembunyikan segala apa apa Termasuk sosok yang dibanggakannya Kekasih Sungguh aku menyayangimu Seamsal konsonan kepada huruf vocal yang menjadikannya kata Lalu tersusun menjadi puisi dan sajak Kemudian dibacakan dengan lantang ...

NOL SKUADRON: Surat dari Kota Hujan

Image
Aku belum pernah melukisnya Malam tadi dan pagi ini baru mulai Cermin lintas antara Bogor dan Majene Persahabatan untuk perubahan waktu Titik nol dalam degup perjalanan Sesaat setelah Ayahnya tiada Perjuangan itu masih dia teruskan Sejuta mimpi untuk diwujudkan Di tangannya semua berharap Bersandar letih selepas berjibaku pena juga kamera Sang jurnalis rupawan membelah malam Hujan yang membuatku sedikit terpejam Menuruni anak-anak tangga stasiun kereta kota hujan Aku mengingatmu hanya dengan membayangkan wajahmu terbentuk dari tetes tetes embun pagi Berkirim doa tulus agar dia kuat Sesaat setelah perahu keluarga tak bernakhoda Pelayaran itu kini dikemudikan olehnya Membawa penumpang yang tak sedikit Taukong tidak bermuram durja Titik nol dalam buku Agustinus Pria itu sahabatku dalam detak pelangi setelah hujan. Selamat bertugas kanda! Bogor, 3 Oktober 2017 (Erna Winarsih Wiyono) Foto via Republika