Kuantar Pulang 6: Terima Kasih Dok

Ilustrasi (foto:inet)
Pukul 16:00, baru saja kusudahi salam ashar. Aku beranjak dari bermunajat pada Tuhan atas sehat yang diberi di atas buminya. Setidaknya itu yang kupikirkan sebelum mengambil wudhu dan mengangkat tangan takbiratul iqram.

Sedianya, sore ini akan berangkat ke lapangan. Mengumpulkan puing-puing kata hingga padu jadi satu naskah berita. Tapi, entah mengapa malas menyandera seluruh jiwa ragaku. Pesta rakyat di sana pun tak kupedulikan, sesungguhnya lapangan itu tak jauh dari tempatku di kota. Kuhiraukan saja bahan liputan untuk itu.

Aku memilih diam merenung di teras depan rumah kecil yang kukontrak lebih setahun ini. Mataku menatap ke depan, memandangi pohon-pohon mangga yang berjejer tak rapi. Kupandangi buah mangga itu yang tampak mulai menguning di atas sana, sedang daunnya rimbun menari-nari di atas seng rumah tetangga. Kulihat pula anak-anak mulai berdatangan bersiap mengaji, mereka meneduh di bawah pohon mangga sambil bermain. Dan seketika pula muncul sosok lelaki tinggi berbadan kurus di antara mereka. Bapak. Iya. Dia baru turun dari motor, diantar kakakku Ardi. Bapak memasuki gang kecil ke arah rumah.

"Mana adikmu," kalimat itu yang pertama keluar dari mulut bapak tatkala masuk pagar rumah menatapku singkat, tak lebih dari dua detik. Sungguh matanya tak bisa kupandang lebih dari itu. Dua detik saja.

Hatiku mulai menohok melihat raut wajah kusam bapak yang bisa kupandang sekilas lintas. Cahaya matanya redup dibalut kulit kriput dengan suara yang amat rendah tak setegar dulu. Ini bukan soal usianya yang mendekati 60, tapi soal penyakit. Aku tahu bapak begitu lama memendam sakit itu, tetapi tak sekalipun rela diantar sekedar cek ke dokter sejak dua puluh tahun silam ia tebaling lama di rumah sakit.

"Caca belum pulang kuliah, Yaya pengajian," jawabku pelan tak bisa menahan perih di hati.

Kulihat kakakku yang pertama Ardi merapikan parkir motornya di dekat pagar, mendekat dan berkata "semalam dia (bapak) tak bisa tidur, perutnya sakit, terus merintih."

"Kami tak tega melihatnya, terpaksa kuantar lagi ke sini, besok bawa ke rumah sakit periksa lagi," pinta Ardi padaku.

"Iya, besok pagi kita kesana," kataku, menatap bapak yang duduk menyamping di dekatku. Aku masih diselimuti rasa perih melihat muka dan seluruh kulitnya tampak menguning.

***

Esok pagi pun tiba. Aku, Yaya dan kakakku Ardi menunggu di depan kamar bertuliskan Poli Interna. Caca tak bisa ikut sebab masih mengejar ketertinggalan kuliahnya. Kami mendapat giliran nomor antrian satu, entah mengapa dokter penyakit dalam satu-satunya di rumah sakit ini tak kunjung datang. Padahal ini sudah jam sembilan.

"Ini hari Jumat, kenapa dokter belum datang, rumah sakit macam apa ini," batinku rasanya ingin mengamuk tak terima keadaan seperti ini.

"Sebentar lagi ya pak, sabar iya," seorang suster mendekat, seolah tahu semua perasaan kami yang gelisah berharap segera tahu penyakit bapak yang sesungguhnya secara jelas dan terang benderang. Lalu apa dan bagaimna jalannya untuk sembuh?

"Silahkan masuk, saya tensi dulu ya, dokternya sudah mau datang," ajak perawat berperangai santun itu.

Kutemani bapak kedalam ruang Poli itu, mendengar suster bertanya banyak hal, dari riwayat pekerjaan hingga makanan dan rasa sakit di perut bapak yang kerap menyiksanya hingga tak nyenyak tidur dan kurus begitu dahsyat.

"Assalamu alaikum," seorang pria berbadan kekar memakai T-shirt Barcelona FC mendadak masuk ruangan. Sejumlah pasien kulihat mematung di luar.

"Waalaikum salam," jawabku, suster dan seorang penjaga lainnya turut menjawab salam.

"Saya dokter Rep," katanya padaku. "Maaf tadi agak lama keliling ruangan, cek pasien," sambungnya.

"Sudah pernah ke praktek ya," tanya dokter Rep seraya minta bapak berbaring.

Kusambut dia dengan cepat "Sudah dok, dua minggu lalu."

Kulihat dia memeriksa mata, hingga memukul-mukul perut bapak. "Saya liat agak kuning ya," katanya.

"Iya" kudengar bapak menjawab pelan.

"Oke silahkan bangun," pintanya ke bapak.

Bapak keluar ruang Poli, kembali duduk di kursi depan kamar. Belum ada pasien lain dipanggil masuk, dokter Rep sibuk menulis di atas meja.

Tak lama, suster keluar ruangan, ia memberiku kode, meminta masuk ke dalam ruang Poli.

"Apa tidak keberatan bila bapakmu saya rawat, dulu? Tanya dokter Rep saat aku baru membetulkan posisi dudukku sesopan mungkin.

"Kulihat dia sepertinya hepatitis," sambungnya.

"Tidak keberatan dok, apapun keputusannya kami sabar menjalani," kataku dengan nada gemetar.

Sesekali kupandang keluar, tampak wajah bapakku seolah disandera rasa ngantuk dan capek. Semangatnya tampak layu dan seperti biasa selalu memalingkan muka saat kami bertemu pandang.

"Silahkan bawa ini ke apotik," dokter Rep menyodorkan selembar kertas kecil kehadapan.

Aku mengambil, tak bisa kubaca dengan jelas tulisan di kertas itu. Intinya ini resep dokter untuk obat dan bahan perawatan bapak. Dia akan diopname.

"Terima kasih dok," kataku sambil berpaling meninggalkan ruangan itu dengan luka bathin yang sulit kuungkap.

Aku keluar Poli menuju apotik. Kulihat bapak didorong dengan kursi roda. Kakak dan adikku mengikut di belakang suster yang mendorongnya ke sebuah ruangan. (*)

BERSAMBUNG








Comments

Popular posts from this blog

Ingin Kembali ke Rumah, Tapi Aku Bukan Anak Ayah Lagi

Berikut adalah Nama-nama 18 Tomakaka di Ulumanda

Perempuan Pembelajar Dari Cirebon