Kuntar Pulang 7: "Bapak Pasti Sembuh"

Ilustrasi (sumber: inet)
Matahari cerah bertahta di atas kepala. Udara menyengat dan aroma aspal menyeruak ke hidung. Sedang orang-orang berjenis kelamin sama tampak berhamburan keluar masjid. Mereka memakai peci, sarung dan mengalungkan sejadah di leher. Pulang dari Jumatan.

Bicara soal masjid, di kota ini memang tak sedikit ditemui. Wajar jika setiap masuk waktu sholat, ribuan toa dari ratusan menara bakal berdendang kalam Tuhan. Ayat-ayat suci hingga panggilanNya bakal menyeruak ke udara kota kecil ini. Kenyataan ini sekaligus menjadikan kota tua ini menjadi khas. Penduduknya juga dikenal taat, agamais.

Tentang kota ini, ia punya sejarah cukup panjang. Di zamannya kota kecil ini menjadi pusat peradaban manusia Mandar. Tak salah jika pemerintah Hindia-Belanda menunjuk kota ini sebagai pusat pemerintah Afdeling. Tapi itu dahulu kala, toh tak banyak yang berubah dari kota ini. Wajahnya masih sama kendati kota lain di sekitarnya bebenah dengan solek yang lebih megah. Yang ini masih kecil dan khas kota tua. Bahkan sebagian orang melabeli kota ini dengan kota budaya. Entah tak mampu berbenah atau sengaja disetting jadi kota budaya. Sepertinya disetting itu lebih tepat. Menjadi kota cagar budaya oleh pemerintah setempat. Ia juga kerap disebut kota pendidikan.

***

Aku menapaki jalan depan masjid itu tak jauh dari rumah sakit. Diantara orang-orang yang keluar masjid kulihat bapak berjalan laiknya orang-orang kebanyakan. Tak terlihat apa-apa, sesungguhnya bapak adalah seorang pasien. Ya. Baru saja diopname usai didiagnosa liver oleh dokter Rep. Kendati demikian bapak tak mau ketinggalan ikut jumaatan bersama ratusan orang di masjid tak jauh dari rumah sakit. Bapak melepaskan impus di tangan. Ia mengikuti khutbah dan shalat jum'at.

Tiba di kamar perawatan kelas tiga, bapak kembali berbaring. Infus dipasang oleh perawat jaga. Sesekali bapak bangun, duduk menempelkan bantal di paha. Satu hari dirawat, bapak tampak biasa saja. Petaka itu barulah datang di hari ketiga ketika perutnya mendadak nyeri luar biasa. Saat kuperhatikan, tak bisa kubendung bola salju dari ujung mataku melihat bapak merintih. Tak jarang kupasangkan selang oksigen di hidung, bapak kerap sesak nafas. Perutnya juga terus membengkak dan tampak laiknya orang hamil tua.

"Kalau begini terus kita pulang saja, saya juga tidak diobati," suara itu terdengar lantang dari mulut bapak, di hari ketiga dirawat di Rumah Sakit.

Aku bisa membaca dia mulai bosan dengan situasi tak mengenakkan di Rumah Sakit.

"Jangan bilang begitu pa, kan kamu mau diobati, saya akan bawa ke Makassar kalau sudah ada perintah dokter," jawabku bernada menyakinkan. Sesakali kuusap rambutnya bak anak kecil yang memang perlu ditenangkan.

"Bapak pasti sembuh," lanjutku.

"Tapi kenapa begini saja," rupanya bapak sedikit kecewa tak banyak tindakan medis, kecuali diberi impus dan obat anti nyeri. Toh sakit di perut bagian kanan malah kian hebat ia nikmati setiap malam.

Waktu berlalu, siang akhirnya menjelma jadi malam. Aku tidur di bawah ranjang. Beberapa buku menemaniku, dan smart phone seraya mengedit berita yang masuk ke emailku lalu kuposting via google crome ke portal berita yang kukelola. Ini sudah hari kelima, perut bapak makin bengkak.

Di kamar sempit itu, statusku benar-benar seorang penjaga pasien. Yang adalah bapakku sendiri yang kutemani. Ini sudah malam kelima bapak dirawat. Dan tentu aku tak sendiri sebagai penjaga pasien di ruang ini. Ada empat pasien lain, masing-masing dijaga keluarganya. Sedang aku ditemani adikku, Yaya.

BERSAMBUNG

Note: Mandar adalah salah satu suku dari empat suku induk di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat.

Comments

Popular posts from this blog

Ingin Kembali ke Rumah, Tapi Aku Bukan Anak Ayah Lagi

Berikut adalah Nama-nama 18 Tomakaka di Ulumanda

Hikayat Ramadan di Relung Sepi Taukong