Perempuan Pembelajar Dari Cirebon

Kadek Trisnanty (Foto: Egi)

Rambutnya lurus dengan mata agak sipit. Muka bulat dengan wajah kalem. Sedikit tampak lesung pipi mempercantik senyum gadis bernama lengkap Ida Ayu Kadek Trisnanty ini. Ia akrab dipanggil Kadek. Mendengar namanya pasti terlintas bahwa gadis ini berdarah Bali. Benar, tapi lahir dan besar di Kota Cirebon, Jawa Barat.

Malam itu Kadek menjadi satu dari 15 relawan Kelas Inspirasi 4 Majene. Ia tergabung dalam Tim 10 SD Negeri 35 Coci. Datang jauh-jauh dari Jakarta untuk ikut Kelas Inspirasi di Majene.

Memang, selama ini Kadek tinggal di Jakarta. Bekerja sebagai business analyst di sebuah perusahaan di ibu kota. Tapi yang pasti, malam ini bukan macet dan hiruk-pikuk Jakarta yang menantang Kadek seperti biasanya, melainkan lumpur, sungai dan gelap malam menuju dusun. Ke Coci kami pergi.

Sebenarnya ini bukanlah situasi baru baginya, sebelumnya lulusan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia ini pernah menjelajah pegunungan Kecamatan Ulumanda, Majene. Saat itu Kadek masih bergabung dengan gerakan Indonesia Mengajar sebagai Pengajar Muda. Ditempatkan di Dusun Rura, Desa Sambabo, Kecamatan Ulumanda, di kaki pegunungan Quarles Provinsi Sulawesi Barat, Kadek setahun mengabdi sebagai guru SD di sana. Tentu saja kondisi geografis pegunungan Kecamatan Ulumanda sudah tak asing baginya. Dan malam ini ia mengulang semua kenangan itu.

***

Perjalanan malam itu mendaki gunung 3 kilometer. Hujan dan angin jadi teman, deras sungai jadi saksi perjuangan 15 relawan, tak terkecuali Kadek. Sepertinya dia benar-benar menemukan kembali semangatnya yang tertancap setahun di Ulumanda.

Tiba di sekolah, aku menyaksikan dia dan relawan perempuan lainnya bergegas. Menyiapkan santap malam untuk teman-teman relawan, mengurusi aneka permainan dan bahan ajar untuk anak. Tak hanya itu, mencuci pirang, menimbah air pun dilakoni semalam itu di Coci. Hmm... malam ini seperti mimpi saja. Kami penuh tawa melepas rasa capek dan ngantuk yang buyar bersama perginya hujan. Peluh yang sedari tadi mengalir kini hilang disapu dingin. Tenggelam ke pori-pori kulit yang disiram hujan dan terpaan angin musim hujan di Coci.

Esok pagi cerah. Sejuk suasana di Dusun Coci. Tak ada bising sama sekali. Jauh dari kota. Kami hanya dapat mendengar suara riuk anak-anak dusun yang mulai berdatangan ke sekolah.

"Kakak kertas," anak-anak memanggilnya.

Rupanya permainan kertas dan mewarnai gambar dalam kelas akan membekas di hati anak-anak. Entah berapa mil dia akan pergi nanti, tapi Kadek meninggalkan permainan yang kelak menjadi ibrah maha berharga buat anak-anak dan kita semua. Setidaknya dari dia kita bisa memetik hikmah bahwa pengorbanan pastilah berbuah manis, meski kadang kita tak pernah tahu seperti apa manisnya buah pengorbanan itu untuk kita dan anak-anak. Ia datang jauh dari Jakarta, membaur bersama warga setempat. Bagiku sendiri itu bukan perkara mudah, jika dipikir buat apa susah-susah datang kesini, mengorbankan waktu, tenaga, pikiran dan banyak hal. Tapi rumusan itu tak berlaku bagi Kadek, ia turun tangan. Tak berlebihanlah kiranya jika ini mengingatkanku pada kisah sekelompok pemuda di zaman revolusi Indonesia. Sebut saja Soekarno, Hatta dan Natsir. Mereka anak muda emas bangsa di zamannya, ia buah hati tersayang ibu pertiwi. Mereka telah mengorbankan segala hal untuk perjuangan kemerdekaan. Dan jikalau kemerdekaan mendapatkan pendidikan yang layak bagi manusia dan kemanusian harus diperjuangkan untuk 40 kepala keluarga di Dusun Coci yang terisolasi, setidaknya Kadek turut memberikan satu goresan warna perjuangan itu untuk mereka.

Soekarno berkata, berilah ibu pertiwi walau hanya setangkai mawar. Dan Kadek serta 15 relawan KI Majene telah memberikan setangkai mawar indah malam itu.

Kini ia telah pergi, tetapi aku membaca satu kalimat mutiara darinya. "Mekarlah Dimanapun Kau Ditempatkan".

Dia menegaskan dirinya dalam kerendahan hati. "Apalah aku, hanya selembar kertas yang terbang tertiup angin," tulisnya.

Entah tulisan itu lahir dari nurani atau sekedar goyonan, aku pikir kalimat diilhami kondisi kebathinan dia secara sadar. Iya. Dan aku pikir kelak dia akan menjadi perempuan pembelajar yang sungguh. (*)


BERSAMBUNG

Comments

Popular posts from this blog

Ingin Kembali ke Rumah, Tapi Aku Bukan Anak Ayah Lagi

Berikut adalah Nama-nama 18 Tomakaka di Ulumanda