Kuantar Pulang 5: Air Bening di Ujung Mata
![]() |
| Foto Ilustrasi (sumber: inet) |
Pagi buta bapak bangun dari tidur usai subuh nan dingin. Di balut rasa sakit ia tampak kuat, tak ada kesah yang telalu selayaknya orang sakit kebanyakan. Bahkan, ketika matahari mulai muncul bapak bangkit dari rasa sakit. Bukankah semalam ia menggigil menahan nyeri. Iya. Tapi pagi ini bak semuanya terlupakan, hilang bersama perginya sang fajar.
"Saya mau ke sawah," kata bapak kala itu.
Mata binar kakakku yang perempuan pun menatap nanar. Ia heran atas tingkah bapak yang di luar nalarnya.
"Untuk apa, bapak kan sakit," tanya kakakku yang perempuan itu.
"Tidak apa-apa. Saya hanya ingin melihat-lihat sawah," jawabnya.
Tak bisa dihalau lagi bapak segera bangkit, mengambil baju, memasang celana panjang dan pakai topi sebagaimana lazimnya ketika ia hendak berladang, pergi ke kebun kopi, kebun kakao atau mencari rotan ke hutan. Selama 40 tahun lebih bapak memang hidup dengan terpaan kerasnya kehidupan. Menjadi peladang berpindah, mengurus kebun kopi dan kebun kakao yang tak sempit, belakangan menjadi petani sawah pasca program percetakan sawah baru dicanamkan pemerintah di desa kami.
Kata kakekku saat masih hidup, bapakku kala muda adalah seorang yang cerdas. Ia pernah sekolah jauh ke kota. Cobaan hidup dan nasib tak beruntung membuat bapak harus pulang tanpa ijazah. Ia hanya mampu di kelas 2 SMA lalu pulang ke kampung tanpa gelar apa-apa. Maka tak ada pilihan lain bagi bapak adalah menjadi pekebun, menikah dan menghidupi kami anak-anak delapan bersaudara. Menikah di usia muda dan hanya mengandalkan alam raya sebagai sumber kehidupan, betapa bapak seorang pemuda yang luar biasa. Sungguh aku kagum padanya.
Aku ingat betul ketika masih SD, bapak tak mudah kutemui di kampung. Pagi buta ia pergi, malam pulang ke rumah kami di perkampungan. Lebih dari 12 jam lamanya bapak pergi menjelajah alam raya desa kami. Untuk apa semua itu, tak ada maksud lain kecuali agar kami anak-anaknya bisa tumbuh, sekolah dan menemukan hidup yang lebih baik di hari kelak. Saya tahu itu karena suatu ketika menguping bapak berkata pada ibu.
"Saya tak ingin apa-apa, kecuali anakku bisa makan dan sekolah," katanya.
Betapapun ia membanting tulang, namun tiga anaknya yang awal gagal mendapat gelar sarjana. Akhirnya akulah anak keempat dan tiga adikku yang menjadi sisa harapan bapak untuk sekolah lebih baik. Satu adekku lagi pun gagal melanjutkan sekolah usai ditimpah sakit sewaktu baru menginjak kelas empat SD. Penyakit kuning. Lagi-lagi itu yang menimpah adikku hingga sempat lumpuh dan gagal sekolah. Meski demikian bapak telah bekerja keras agar kami dapat sekolah walau akhirnya finish di tempat yang tak ia harapkan. Tapi bagaimanapun bagiku bapak adalah lelaki bertanggung jawab, atas jasanya aku dapat menulis kisah ini.
Akhirnya tibalah dia di sawah. Di sana sejumlah orang sedang mencangkul. Tak terlintas dibenak siapapun jika bapak yang sedang sakit hadir ke sana. Tak percaya ia dapat menahan perih di perut bagian kanan. Sekelompok orang di sawah termasuk kakakku yang pertama, Ardi, keheranan.
"Bapak kenapa kesini, kan lagi sakit," kata kakakku, Ardi.
Dia heran melihat bapak kembali mengenakan baju itu. Buju dinas? Iya. Tapi bukan baju dinas kantor melainkan baju dinas persawahan alias baju kerja petani yang tak terurus.
Bapak berjalan pelan, berdiri di atas pematang. Matanya liar memeriksa keadaan. Dan angin pun bertiup melambaikan tangan bak menyambut kedatangan bapak. Tersentaklah topi kesayangan bapak, tertiup angin hingga jatuh ke air sawah.
"Aku tak bisa duduk sempurna, tolong ambilkan topiku," kata bapak pada seorang saro.
Saro ini adalah anggota kelompok pemabajak sawah di dusun yang dipekerjakan oleh kakakku. Biasanya jika tak diupah maka saro juga berhak dibantu membajak sawahnya. Para saro itu bergiliran setiap hari hingga semua mendapat giliran sawahnya dicangkul. Iya. Seperti itulah cara mereka mempermudah bekerja. Bahkan bukan hanya urusan sawah, pekerjaan lainnya pun demikian.
Topi itu kembali di pasang di kepala bapak. Seketika air bening menetes dari ujung matanya yang tampak beda. Mata yang dibalut kulit kekuningan. Dan jika kita perhatikan sinar mata bapak itu tampak layu tak lagi menyala dan tajam seperti dulu. Entah mengapa bapak bermuram durja? Tak ada yang tahu. Ia pun mengusap air bening di matanya lalu izin pamit pada orang-orang di sawah. Siapa yang tahu jika inilah kali terakhir bapak datang ke sawah. Berpuluh-puluh tahun ia menghambiskan waktu di sini. Bahkan sejak area ini masih kebun kopi lalu digusur dan menjadi sawah hingga seperti sekarang. Mata bapaklah satu-satunya yang menjadi saksi atas semua proses perjalanan waktu itu.
Bapak pulang. Ia kembali ke perkampungan. Ia tak dapat menyembunyikan kesedihan hatinya yang teramat dalam. (*)
BERSAMBUNG

Comments
Post a Comment