Malam Inspirasi dari Coci

Relawan KI Tim SD Negeri 35 Coci menyebrang sungai (Foto: Egi amin)

Sekira pukul 21:45 kami tiba di Dusun Coci. Hujan menemani separuh perjalanan hingga tubuh basah kedinginan. Tiba di sekolah, kami berjejer di pinggir teras depan pintu, membersihkan lumpur-lumpur dari kaki, tangan hingga ke tubuh dari air hujan yang mengalir melalui atap seng. Lalu masuk ke ruang kelas. Membentuk satuan terpisah laki-laki dan perempuan. Ketika itu hujan masih mengguyur sekeliling.

Malam ini cukup menentang, sekitar 3 kilometer berjalan kaki. Menapaki jalan bebatuan dan lumpur lagi gelap. Menyebrangi sungai dengan lebar tak kurang dari 30 meter. Beruntung ada senter dari dua orang kawan. Lumayanlah untuk penerang. Selebihnya mengandalkan handphone dan naluri kebathinan atau mungkin ini yang disebut mata hati. Kami mendaki. Berjibaku dengan lumpur. Berjuang pasti. Tapi bukan hal yang cukup memberatkan bagi kami. Bukan relawan kalau mengeluh, kata seorang kawan sok kuat. Dan, inilah SD Negeri 15 Coci tujuan akhir petualangan kami malam ini. Apa sesungguhnya yang kami lakukan di sini? Belajar menjadi pembelajar, menginspirasi dan terinspirasi. Kelas Inspirasi (KI) memang tempat berkumpulnya para penebar inspirasi, pembelajar yang haus belajar. KI-lah yang mengantarkan kami sampai ke tempat ini.

Just info, keberadaan KI di Majene awalnya dari gagasan delapan pengajar muda dari gerakan Indonesia Mengajar. Rupanya gerakan ini berlanjut walau para pengajar muda itu meninggalkan Majene. Bahkan bukan hanya Majene, hampir semua Kabupaten di Sulbar membangun gerakan sama, Se-Indonesia malah hampir semua tahu tentang kelas inspirasi.

Untuk Kabupaten Majene sendiri, KI kali ini adalah yang keempat. Kami tergabung dalam Tim SD Negeri 35 Coci. Sekolah ini terjauh dari pusat Kecamatan Pamboang. Tak salah jika Pemkab Majene menetapkan SD ini sebagai sekolah zona terpencil.

Sekelumit tentang SD Negeri 35 Coci. SD ini berdiri tahun 2008. Sekolah ini ternyata punya sejarah inspiratif. Adalah lima orang pemuda yang berjasa dalam mewujudkan berdirinya sekolah di perbatasan Kabupaten Majene dan Kabupaten Polewali Mandar ini. Kami sebut satu persatu lima pemuda itu: Muh. Rifai, S. Pd, Kaharuddin, S. Pd, Sudirman, S. Pd, Masdaria, S. Pd dan Bahtiar, S. Pd. Kelima sarjana muda inilah perintis pendidikan dan inisiator dibalik berdirinya bangunan SD Negeri 35 Coci Kecamatan Pambong. Dari kelima pemuda ini, satu orang lulus menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) tahun 2010, dua orang masih sukarela dan dua lainnya pindah ke sekolah lain. Meski demikian SD Negeri Coci kini menjadi sekolah reguler yang menyandang status sama dengan sekolah negeri umumnya di lingkup Pemkab Majene.

Dalam sesi wawancara dengan, Muh. Rifai, S. Pd (saat ini masih aktif mengajar di SD Negeri 35 Coci), kami mendapat informasi ihwal sekolah ini lebih jauh. Di tahun 2008 bangunan sekolah ini berdiri melalui program PNPM Mandiri Perdesaam. Tiga ruang belajar ditambah satu ruangan guru adalah awal gedung sekolah ini. Kini bangunan itu masih kokoh kendati tampak mulai tua. Bahkan bangunannya yang seratus persen kayu mulai dimangsa rayap dan tampak lapuk. Beberapa papan dinding rusak dan bocor. Di ruang kelas satu, kita dapat dengan mudah melihat orang lain di sebelah. Sebab dinding bocor.


Murid SN Negeri 35 Coci dipotret dari luar kelas melalui dinding yang bocor (Foto: Egi Amin)

Pada tahun 2012 kemudian dibangun lagi tiga ruangan kelas baru melalui APBD Majene. Kini sekolah yang masuk wilayah Desa Banua Adolang ini memiliki tiga guru PNS, delapan honorer dan satu bujang sekolah yang juga honorer.

Kembali ke malam inspirasi. Kami sebut malam inspirasi sebab esoknya adalah hari inspirasi. Sebutan waktu untuk hari mengajar dalam program kelas inspirasi ini. Kami tak bisa tidur lelap malam itu. Antara dingin dan rasa letih ternyata cukup menyiksa, plus kopi yang harus menjadi pilihan untuk menghangatkan malam nan dingin usai diterpa hujan dan angin malam dalam separuh perjalanan mendaki gunung menuju ke Dusun Coci. Jadilah mata ini melek enggan terpejam.

Pukul 02.00 Wita dini hari, di ruang sebelah masih terdengar suara perempuan. Kukenali suara itu adalah teman-teman relawan. Sejam kemudian sebagian kawan terdengar ngorok. Tidur. Dan aku masih terjaga. Lagu pasrah milik Andi Meryam Mattalatta yang kuputar sedari tadi tak bisa mengantar mata terlelap, ia hanya mampu menemaniku menghabiskan malam dalam dekapan sunyi. Kampung ini bak tak ada kehidupan, hatiku berbisik. Betapa tenang jiwa dan pikiran bila tinggal di sini. Tak ada hiruk-piluk umat manusia yang membisingkan suasana. Aku menemukan ini bagai tempat persemedian dalam kisah pewayangan orang-orang Jawa. Mata terpejamlah walau semenit. Aku berharap. Tidur !

BERSAMBUNG

Comments

Popular posts from this blog

Ingin Kembali ke Rumah, Tapi Aku Bukan Anak Ayah Lagi

Berikut adalah Nama-nama 18 Tomakaka di Ulumanda

Perempuan Pembelajar Dari Cirebon