Aku Mencintaimu, Kekasih
Kekasih
Aku mencintaimu
Seperti matahari yang terbit di ufuk timur lalu sirna di langit barat
Tak pernah berhenti dari jutaan abad silam kala semesta raya digelar sang khalik
Selalu dan akan tetap ada selama dunia belum kiamat
walau terkadang mendung menyembunyikannya
meski hujan kerap menghadangnya
Kekasih
Aku menyukaimu
Semisal hujan yang merelai tubuhnya jatuh dari langit
Lalu menyiram pucuk dan daun daun bunga
Hingga mawar melati merekah, tercipta panorama merasuk sukma
Kupu kupu pun tersenyum lepas
Terbang bebas menghisap sari kelopak putik
Kekasih
Aku menyayangimu
Seumpama lilin yang membiarkan jasadnya leleh lalu lenyap
Tetap tabah membakar nyala
Meski ia tahu bahwa cahayanya sebentar lagi sirna
Tanda tak sudi jika gulita menyembunyikan segala apa apa
Termasuk sosok yang dibanggakannya
Kekasih
Sungguh aku menyayangimu
Seamsal konsonan kepada huruf vocal yang menjadikannya kata
Lalu tersusun menjadi puisi dan sajak
Kemudian dibacakan dengan lantang para pujangga
Kekasih
Sungguh dan sungguh aku menyayangimu
Laksana doa seorang ibu kepada anaknya
Yang dipanjatkan penuh rahasia di keheningan malam
Air matanya berjatuhan tak terhitung
Meski anak anaknya masih terbuai dalam dekapan lelap
Samata, 22 november 2016
Gerimis Senja
Foto via Solopos.com

Comments
Post a Comment