NOL SKUADRON: Surat dari Kota Hujan
Aku belum pernah melukisnya
Malam tadi dan pagi ini baru mulai
Cermin lintas antara Bogor dan Majene
Persahabatan untuk perubahan waktu
Titik nol dalam degup perjalanan
Sesaat setelah Ayahnya tiada
Perjuangan itu masih dia teruskan
Sejuta mimpi untuk diwujudkan
Di tangannya semua berharap
Bersandar letih selepas berjibaku pena juga kamera
Sang jurnalis rupawan membelah malam
Hujan yang membuatku sedikit terpejam
Menuruni anak-anak tangga stasiun kereta kota hujan
Aku mengingatmu hanya dengan membayangkan wajahmu terbentuk dari tetes tetes embun pagi
Berkirim doa tulus agar dia kuat
Sesaat setelah perahu keluarga tak bernakhoda
Pelayaran itu kini dikemudikan olehnya
Membawa penumpang yang tak sedikit
Taukong tidak bermuram durja
Titik nol dalam buku Agustinus
Pria itu sahabatku dalam detak pelangi setelah hujan.
Selamat bertugas kanda!
Bogor, 3 Oktober 2017 (Erna Winarsih Wiyono)
Foto via Republika

Comments
Post a Comment