Kuantar Pulang 2: Ke Bukit Itu Kami Pergi
![]() |
| Foto via Solopos.com |
Ke Bukit Itu Kami Pergi
Malam itu aku tak bisa tidur. Hatiku gelisah, pikiran melayang jauh menjumpai kenangan masa kecilku. Aku memilikirkan banyak hal tentang bapak. Dulu ia lelaki perkasa, ulet dan tak pernah sakit. Kuasa Tuhan, kini wajah bapak berubah tampak lesuh. Kulitnya mulai keriput dan sakit-sakitan. Tapi ia masih tampak muda, umurnya memang baru sekitar 58 tahun.
Oh ya, tiga bulan lalu, tepatnya bulan puasa, aku mengantar bapak ke sebuah klinik. Usai dironseng dan terima resep dokter, kami balik ke rumah kontrakan. Berkat minum obat rasa sakit di perut bapak kini mulai berkurang. Dokter menjelaskan bahwa kondisinya baik-baik saja. Pun ketika kuantar cek di rumah sakit dua pekan kemudian, bapak dalam kondisi sehat.
"Fungsi hati dan ginjal baik," kata dokter yang memeriksanya. Aku pun membiarkan bapak pulang ke desa.
"Saya ingin pulang dulu, sebab rumah kita mau diperbaiki," kata bapak padaku suatu malam.
Awalnya aku melarang dia pulang. Khawatir sekembalinya ke kampung dia akan bekerja keras lagi. Aku mengharapkan bapak tinggal bersamaku di kota, di rumah kontrakanku. Tentu bermaksud agar lebih dekat dengan dokter dan rumah sakit.
"Tidak apa-apa saya akan segera kembali lagi ke kota," kata bapak meyakinkan saat mau puang ke desa. Akupun merelakannya pulang seorang diri, ia menumpang di sebuah mini bus angkutan umum.
Sebelum bapak pulang, aku masih sempat mengantarnya ke sebuah bukit, tak jauh dari pusat kota. Ke bukit itu aku mengantar dengan motor, berharap mendapat pengobatan alternatif dari seseorang yang dikabarkan pandai menyembuhkan penyakit dalam. Sayang sesampai di sana, aku dan bapak kecewa, sebab bukan pengobatan alternatif yang kami raih justru jampi-jampi. Orang itu, seorang lelaki yang kira-kira seumuran bapak. Ia adalah dukun. Bapakku sempat dimandikan. Tadinya bapak tampak menolak, tapi aku memberi isyarat untuk melanjutkan ritual itu agar sang dukun tak kecewa.
"Penyakit bapakmu, itu karena ada yang main-main," kata si dukun itu.
"Main-main apa maksudnya puang?," tanyaku.
Dukun itu menjelaskan, bapak diguna-guna oleh tetangga kami di desa. Sungguh aku dan bapak tak pernah percaya, tapi sekedar manggut-manggut, berharap Si Dukun tak kecewa dan marah.
"Kami pamit dulu," aku beranjak, kusalami dukun itu dengan menyelip selembar rupiah yang tak perlu kusebut nilainya.
"Ini ucapan terima kasih puang," kataku.
Aku pulang, bersama bapak kami berjalan kaki keluar rumah. Kami kembali menuruni bukit itu sampai menemukan motorku yang terparkir di kaki bukit. Aku perhatikan bapakku sedari tadi, sulit sekali memandang matanya lebih lama. Setiap kutatap ia akan mengalihkan pandangan, melemparkan tatapannya ke lain arah. Saat itu aku mulai merasakan gejolak bathin, tak biasanya bapak memalingkan pandangan. (*)
BERSAMBUNG

Comments
Post a Comment