Kuantar Pulang 4: Mata Bapak yang Liar

Foto: Beritalangitan.com

Mata Bapak yang Liar

Bapak duduk di kursi kayu. Matanya liar memandangi satu persatu isi rumah. Tak lama duduk, ia bangkit berdiri, berjalan mengitari seisi rumah panggung kami. Masuk kamar kami, lalu keluar, menuju ke semua sudut sambil matanya memperhatikan seksama barang-barang bekas dan benda dalam rumah. Bahkan, dua lemari kaca turut dibuka satu persatu. Entah apa maksudnya, bapak seolah memeriksa semua keadaan.

"Ada apa," tanya kakakku yang perempuan.

"Tidak, saya lama tidak memeriksa rumah dan barang-barang ini," kata bapak melempar pandangan ke arah tak menentu.

Memang, akhir-akhir ini teramat sulit menatap mata bapak. Entah kenapa ia selalu berpaling dari tatapan orang. Hingga si kecil, anak kedua dari kakakku yang perempuan pun menjadi seolah sesuatu yang lain. Tak seperti biasa, Diba, nama anak kedua kakakku itu seperti biasa saja di mata bapak.

Sungguh aneh, Diba yang lagi lucu-lucunya menjadi sosok yang seolah tak menarik di mata bapak. Padahal, selama ini, bak tak ada harta paling berharga bagi bapak kecuali Diba dan cucu-cucunya yang lain. Apakah ada perasaan berbeda yang hadir dalam relung terdalam bapak. Tidak. Aku tak yakin itu, mungkin karena bapak menyembunyikan sesuatu. Ia itu yang sepertinya aku lebih percaya, bahwa bapak menyembunyikan rasa sakit.

"Rumah ini harus dirobohkan secepatnya, harus segera diperbaiki sebelum saya pergi," kata bapak saat itu.

"Mau pergi kemana," kata ibu keheranan.

"Jangan sembarang ngomong, bapak," timpal kakakku yang perempuan.

"Tidak, saya akan pergi nanti, dan saya tidak mau jika anak-anakku pulang ke desa rumah masih seperti ini. Lapuk," lanjut bapak membalas.

"Jangan sembarang ngomong, mau kemana," sela kakakku lagi.

"Iya. Saya akan pergi."

"Kembali ke kota. Berobat," lanjutnya selang beberapa detik kemudian.

***

Malam telah tiba, suara adzan isya baru saja menggemah. Anak-anak desa telah pulang mengaji. Suasana gelap karena listrik padam sejak tujuh bulan lalu usai bendungan PLTM bocor membuat desa kami terasa sunyi. Beruntung masih ada AKI (accumulator) sebagai sumber penerang seadanya. Diluar sana hanya ada suara-suara burung terdengar menjauh dari balik gunung. Dan ketika itulah rasa itu datang lagi. Sakit. Bapak terbaring di ranjang.

"Astagfirullah, rasa tak kuat," kata bapak merintih.

Kakakku yang perempuan tampak duduk di samping. Ia tak kuasa menahan air bening yang jatuh dari matanya.

"Bangunkan saya, mau sholat," pinta bapak.

Perlahan-lahan kakakku menguatkan tangan, menarik bapak dari pembaringan. Dan ketika bapak duduk sempurna, tangannya lalu menyekah dinding. Ritual tayammum pun ia lakukan, lalu sholatlah ia menghadap kiblat dalam posisi duduk.

"Jangan lupa ingatkan jika subuh masuk, kamu boleh tidur, jaga anakmu," pinta bapak.

Saat itu mata kakakku yang masih sembab seketika memandang perut bapak yang kini mulai berubah. Mulai membuncit, seperti orang hamil muda. Ada sedih nan ibah yang tiada tara di hati perempuan berusia 38 tahun ini. Iya. Kakakku yang perempuan sesunggukan bersedih hati. (*)

BERSAMBUNG





Comments

Popular posts from this blog

Ingin Kembali ke Rumah, Tapi Aku Bukan Anak Ayah Lagi

Berikut adalah Nama-nama 18 Tomakaka di Ulumanda

Hikayat Ramadan di Relung Sepi Taukong