Kuantar Pulang 1


Kuantar Pulang

Hujan baru saja redah, suasana terasa dingin, basah seisi bumi di kampung kami. Mulutku masih melafadzkan kalimat tauhid Lailaha Illallah, beberapa orang turut membaca kalimat itu. Ada hening sejenak, lalu terdengar isak tangis memecah kesunyian. Orang-orang yang hadir tampak histeris. Semua mata sembab, bahkan beberapa wanita nyaris tak sadarkan diri. Innalillahi wainna ilaihi radjiun. Sesunggukan orang menangis, tak ada yang dapat menahan gejolak hati yang perih.

Tatapanku kini fokus pada sesosok wajah kaku di hadapanku. Hatiku tersayat, tetapi sadar kehidupan memang ibarat dua sisi mata uang yang selalu bersinggungan. Ada kelahiran dan ada kematian, ada tangis dan ada tawa, bahagia dan duka. Dan bahwa kepergian orang-orang terkasih akan selalu menghadirkan duka dan penyesalan di hati orang yang ditinggalkan. Betapapun kita menolaknya, takkan pernah lari dari kematian.

Aku memeluk erat bapakku. Hati ini rapuh saat tak lagi merasakan balas pelukan cinta dari bapak. Iya. Aku tak dapat merasakan pelukannya seperti dikala aku kecil dulu. Saat dimanjakan bapak, saat aku takut dan sedih lalu pelukan itu hadir jadi penawar, menghilangkan segala ketakutanku, memberi pengharapan serta menguatkan asa. Kini bapak telah terbujur kaku. Aku mengantarnya pulang dengan dua kalimat suci. Bapak... Aku merintih menyapa ayahku.

Di luar rumah tak lagi ada angin, hujan telah belalu sempurna. Dan kini yang tersisa adalah pelangi. Sayang untuk kali ini semua cerita pelangi tak dapat menyejukkan hati. Aku tak ingin melihat keindahan fenomena alam yang kukagumi sejak kecil itu. Aku tak ingin mengingat semua masa kecilku itu, ketika bapak menggendongku melihat pelangi.

Tatapanku enggan berpaling dari wajah bapak yang kaku. Sejanak menoleh ke samping, kulihat wajah kakakku yang perempuan memudar. Matanya yang tajam sembab. Mata itu persis mata bapak. Sorotannya sama tajamnya, alis dan bulu matanya tersusun rapih juga sama. Iya, mata itu memang sama.

"Bapak, ... Kami semua ada di sini," kudengar suara itu diantara isak tangis. Kakak perempuanku itu setengah berteriak. Dan isak tangis pun kembali membuncah ke udara, dari dalam ruang kecil sebuah rumah kayu. Ini rumah kakakku yang laki-laki. Seingatku rumah kayu berlantai semen ini belum cukup sepuluh tahun. Di sinilah tempat tinggal kakakku yang pertama. Dia seorang lelaki pendiam. Sejak dikaruniahi dua orang putra usai menikah sepuluh tahun lalu kakakku membangun sebuah rumah semi permanen. Mereka tinggal berempat dengan istri dan dua orang putranya. Sebelum sakratul maut, bapak harus "diusingkan" ke rumah itu, sebab rumah kami sendiri sedang direhab. Rumah kami mulai dirobohkan saat bapak masuk rumah sakit. Dua minggu di rumah sakit dan pulang, rumah kami belum juga selesai, maka ke rumah kakak-lah bapak kami bawa. Akhirnya ia menghembuskan nafasnya yang terakhir tepat pukul 17.00 sore. Hari itu Minggu 24 September 2017.

Oh ya, Aku ingin kisahkan, bahwa rumah sederhana yang kami punya itu tak banyak peralatan apalagi perabot megah. Laiknya gubuk di desa-desa, kami hidup bertahun-tahun di rumah kayu itu. Rumah kami berada di samping rumah kakakku yang pertama. Tak ada jarak pemisah kecuali parit. Kini rumah kami sedang dalam perbaikan.

Kembaki aku meyaksikan wajah-wajah yang sedih. Satu persatu kusorot wajah mereka itu. Kakak-kakakku, adik-adikku, kerabat dan tetangga yang datang melayat. Semua orang menangis. Dan seketika kulihat ibuku yang malang. Ia dirundung nestapa atas kepergian bapak.Tentang ibuku itu, tak lain seorang perempuan keras, lebih tepatnya tegas. Sikapnya yang ingin tahu banyak hal dan disiplin membuat kami anak-anaknya akhirnya harus terbiasa dengan sopan-santun dan malas gila urusan. Alasannya tak ingin dapat interogasi dari ibu sebab ia akan menanyakan semua hal ketika kami pulang ke rumah. Ibuku seorang bertangan besi, ia kuat dan tangguh melahirkan dan membesarkan kami delapan bersaudara. Tapi, dibalik sikap keras dan ketegasan ibu, telah tersimpan sikap penyayang yang tak tertandingi oleh wanita mana pun yang pernah kukenal. Ibuku adalah wanita terbaik, ia malaikat Tuhan untuk kami anak-anaknya. (*)

***

BERSAMBUNG


Comments

Popular posts from this blog

Ingin Kembali ke Rumah, Tapi Aku Bukan Anak Ayah Lagi

Berikut adalah Nama-nama 18 Tomakaka di Ulumanda

Perempuan Pembelajar Dari Cirebon