Menyambangi Warga Ulumanda di Balikpapan
Sore itu sekitar pukul 15.00 WITA, mentari masih terasa menyengat ketika kami turun dari sebuah mobil honda jaz milik warga Tenggarong Kutai Kartanegara. Tepat di sebuah rumah mugil di atas bukit, kami bertiga turun dari mobil itu. Sang Sopir lalu berkata, bahwa ia hendak melanjutkan perjalanannya untuk kembali ke Kutai Kartanegara. Kami pun mengucap terima kasih telah bersedia mengantar hingga ke Balikpapan.
Oh ya, honda jaz itu kami rental (carter) kurang lebih 4 jam perjalanan Tenggarong-Balikpapan. Sewanya lumayan Rp. 500 ribu. 😆 Perjalanan kami dari Tenggarong ini adalah dalam rangka mengikuti Uji Kompetensi Wartawan (UKW) di Bumi Etam Kutar.
Saat mobil melaju turun dari bukit hendak meninggalkan KM 5 dan tentunya meninggalkan kami, seorang pria muda yang sedari tadi menjemput kami hingga ke jalan poros turun dari motor. Ia membuka pagar.
"Ayo, silahkan masuk," kata pria itu.
Saya dan lelaki itu tentu tak saling canggung. Dalam bahasa daerah pa'nei (bahasa orang Ulumanda) kami berbincang dalam suasana kekeluargaan. Sangat akrab tentunya, bahkan lebih banyak bercanda. Aku perkenalkan ya namanya Uma', lebih akrab disapa Waldi. Sebenarnya saya memiliki hubungan kerabat yang masih sangat dekat dengannya. Bapakku dan dia bersepupu. Sejak 2006 lalu, dia merantau ke tanah Borneo dan kini menetap di KM 5 Balikpapan Utara.
Kami masuk ke dalam rumah miliknya, dan sungguh kagum, sebuah rumah mugil nan indah aku lihat begitu. Hmm... Saya membayangkan seperti ini villa-villa kecil di puncak Bogor atau rumah-rumah orang Inggris di Eropa. (hehehe). Waldi seorang diri saat kami datang, istrinya kebetulan ke rumah kawannya.
Singkat cerita, usai dijamu minum kopi, kami (saya dan dua teman asal Sulbar) duduk santai di teras. Beberapa kerabat dan keluarga Ulumanda di sekitar itu datang. Mungkin karena tahu ada orang sekampung yang mampir di KM 5 itu. Atau mungkin juga karena kebiasaan mereka yang suka kumpul-kumpul sore atau petang. Ketika itulah, saya dikenalkan pada seorang kakek. Dia seorang haji, kira-kira berusia 70 tahun lebih. Saya memanggil kakek maksud hati sebagai penghormatan kepada beliau. Ternyata tak kusangka beliau memang pantas kupanggil kakek sebab ayah dari bapakku masih bersepupu. 😂
Nah, kami pun terlibat dalam cerita. Saya bertanya beberapa hal, termasuk ihwal kehadiran beliau di Balikpapan, Kalimantan Timur.
Kakek itu (maaf tak elok saya sebut namanya) menceritakan, pada tahun 1947, ia telah meninggalkan tanah kelahirannya di Ulumanda. Kepadaku beliau menceritakan, bersama ayah dari Bapakku (almarhum) dia berangkat ke Balikpapan. "Masih naik perahu saat itu," katanya.
Kakek tua itu juga menceritakan, saat itu di Mandar termasuk Ulumanda masih gencar-gencarnya pergolakan politik pasca proklamasi kemerdekaan RI di Jakarta 1945. Beberapa pemberontakan telah terjadi, termasuk yang terhebat dan dirasakan masyarakat Ulumanda adalah DI TII pimpinan Kahar Mudzakkar.
Kakek tua itu juga bercerita, zaman itu pemerintah belum normal, harga sima (pajak) mencekik leher. "Saya tidak bisa bayar pajak yang mahal," katanya tersenyum.
Lalu pergilah ia merantau. Setelah belayar mengarungi selat Makassar, akhirnya kakek ini tiba di Balikpapan. Di sanalah semua hal baru dimulai. Menikah dengan sesama warga Ulumanda yang dia kenal di perantauan, lalu memiliki anak hingga cucu yang semua lahir di rantau orang. Dan alhamdulillah, dirinya diterima bekerja di sebuah perusahaan minyak sebagai polisi perusahaan.
Hingga kini, kakek bersama istri dan anak serta cucu-cucunya telah menetap di Kota Balikpapan. Oh ya, beberapa rumah di sekitar KM 5 Balikpapan Utara juga adalah warga asal Ulumanda. Dan kakek tua ini menjadi salah satu tokoh warga Mandar di daerah ini. (*)
Penulis: Harmegi Amin
Foto: dok egi

Comments
Post a Comment