Kenalkan Namaku Dwi Ani


Namaku Dewi Ani, biasa dipanggil Dewi. Sejak kecil aku selalu hidup mandiri tanpa kasih sayang kedua orang tua selayaknya teman sebaya.

Dalam keseharian jarang kujumpai ayah dan ibu, mereka sibuk dengan rutinitas masing-masing tanpa menghiraukan aku. Padahal, usiaku saat itu masih terlalu dini bila harus segalanya hidup mandiri tanpa peduli mereka.

Suatu hari saat bulan puasa tiba,  sekolah mengadakan pesantren kilat dan acara buka bersama. Setiap teman sekolah yang kulihat, mereka sanggup ceria kembangkan senyum indahnya, sedang aku tidak. Aku tidak bernasib seperti teman lain, yang dipersiapkan bekal lengkap untuk berbuka, baju rapih dengan kerudung indah distrika.Saat ceramah agama dimulai, aku mendengarkan dengan seksama.Sesekali aku ikut tersenyum mendengar cerita lucu guru, namun saat guru bercerita tentang keluarga yang harmonis justru aku sedih, sebab apa yang aku rasakan sungguh jauh berbeda. Ayahku sering pergi dan jarang di rumah, sedang ibu berangkat subuh dan pulang sore. Terkadang sampai malam, sebab ibuku seorang pedagang buah-buahan. Setelah sampai di rumah merekapun lelah tiada waktu untuk bercengkerama denganku.

Aku tersadar dari lamunan yg menggelayut ketika kudengar teriakan teman-teman.

"Saatnya buka puasa, mari berdoa bersama," riuh lantaran suasana gembira saat berbuka bersama.

Sambil menghadap bekal masing-masing, sedang aku malu untuk membuka bekal di hadapanku. Bekal yang kubawa hanya nasi gosong dan sebiji tahu goreng. Itu hasil kreasi masakan aku sendiri, mungkin sebab masih umurku baru sembilan tahun, tak ada orang yang ajari aku memasak. Makanya hasil menanak nasi ditungku pun gosong.

Pada suatu hari ketika ayah dan ibu tak berada di rumah, seperti biasa aku berangkat sekolah. Tak ada sarapan dan tanpa bekal. Biasanya saat jam istirahat sekolah aku pulang, dengan harapan dapat kujumpai ayah atau ibu, dan aku ingin mengutarakan keluhanku tentang sepatu sudah robek, seragam sekolah jelek dan meminta ayah dan ibu membelikan perlengkapan sekolah. Aku malu dengan kondisi itu. Namun setelah sampai di rumah harapanku sia-sia, tak ada orang, tak ada makan di meja, perih perutku sebab dari pagi tidak sarapan. Dan akhirnya aku memanjat pohon jambu di depan rumah. Sampai di puncak di saat aku mau meraih buah jambu yang merah, kurasa ada yang menarik, keseimbanganku hilang karena rasa lapar. Ternyata dahan yang kuinjak patah. Argh... jatuhlah aku sebelum sempat mengambil buah jambu tersebut, dan aku tidak ingat lagi, aku hanya merasa seperti terbang melayang di udara. Saat itu, menurut para tetangga yg menolongku, aku sempat pingsan lama akibat terjatuh dari pohon jambu yang lumayan tinggi. Beruntung aku nggak "mati " kata mereka.
Setelah siuman, tubuhku serasa sakit. Aku berhari-hari tidak sekolah. Ayah dan ibu saling menyalahkan. Dari situ aku menangis menitihkan air mata.

"Ya Tuhan ... kenapa tidak kau ambil nyawaku, aku tidak mau hidup menderita tanpa kasih dan sayang ayah-ibu, Tuhan !!!" aku menggumam.

Setelah sembuh aku mulai sekolah lagi, namun hari demi hari yang kujalani tetap sama, ayah jarang di rumah, ibu berdagang dan aku sepi sendiri tiada yang peduli. Bahkan, akupun sering menjadi pelampiasan kemarahan ibuku tanpa sebab. Kadang aku dipukul dengan kayu pelepah kelapa, sampai memar dan biru. Tanpa ibu menghiraukan jerit tangis dan rasa sakitku.

Saat aku mau naik kelas empat SD, aku dititipkan di rumah bude (kakak ibu). Tepatnya di Singaparna, Tasik Malaya, Jawa Barat. Bude adalah seorang tukang jahit, sedang suaminya seorang guru sekaligus kepala sekolah di sebuah madrasah (pondok pesantren). Mereka punya tujuh orang, bisa dibayangkan bila ditambah aku. Di rumah bude jadi kian ramai. Sebenarnya hidup bersama bude cukup menyenangkan, walaupun penuh kesederhanaan tapi pendidikan akhlak dan moral sangat ketat dan disiplin. Setiap jam empat pagi semua harus bangun, rutin untuk pergi sholat subuh berjamaah di masjid atau mushola. Pagi harinya setelah membereskan pekerjaan rumah harus berangkat sekolah. Sampai siang. Usai itu waktunya istirahat dan aku sering bermain. Bila sudah tiba waktu jam 15:00, aku harus pergi sekolah madrasah (mondok). Tidak boleh alpa, bila membangkang harus siap dimarahi bude.

Hampir dua tahun aku ikut bude, pada suatu hari ibu datang bersama laki-laki asing. Sama sekali tidak kukenal. Aku kecewa dengan kenyataan, ternyata kedatangan ibu bukan sebab kangen aku anaknya, tapi sebab untuk tujuan melangsungkan pernikahan di tempat bude. Sikap ibupun dingin terhadapku, ibu lupa daratan, mencari kebahagiaan sendiri tanpa hiraukan derita dan nestapa bathinku. Aku ingin menangis, menjerit sekuatnya, aku berontak, kenapa aku harus terlahir ke dunia. Rasanya aku tidak mau terlahir bila aku tidak pernah merasakan kasih sayang ayah dan ibu.

Setelah ibu menikah, lalu pulang ke Lampung, sedang aku tetap tinggal di Singaparna. Hari demi hari kulalui serasa hampa, aku tidak ceria, aku tidak semangat. Ingin rasanya aku mengakhiri hidupku, apalagi bila ingat kenyataan bahwa aku selalu tersisih dari teman-teman sebaya. Aku selalu dicemooh dengan sebutan "Si Jawa dari Sumatera". Sedih dan pilu selalu hadir dan entah kapan sirna. (*)

BERSAMBUNG

Penulis: Dinda Astri

Foto via publicdomainvectors.org

Comments

Popular posts from this blog

Ingin Kembali ke Rumah, Tapi Aku Bukan Anak Ayah Lagi

Berikut adalah Nama-nama 18 Tomakaka di Ulumanda

Hikayat Ramadan di Relung Sepi Taukong