Kuantar Pulang 3: Bapak Dalam Kenangan
![]() |
| Foto: metrocebo.com |
Bapak Dalam Kenangan
Suatu sore yang indah. Nuansa hening menyelimuti desa kami. Tak ada suara kecuali kicau burung yang seirama nyanyian angin. Kakakku yang perempuan duduk di beranda rumah panggung. Rumah kami ketika belum dirobohkan, atau lebih tepatnya direhab. Di depan terbentang gunung mengitari kampung. Pohon-pohon berjajar asri. Ada dedaun rumbiah menari-nari tak jauh dari atap rumah tetangga. Yang ketika pagi aku biasanya duduk menatapi dedaun itu. Karena konon, menatap dedaun hijau akan menjernihkan mata, lantas itulah jarang kulewatkan pagi duduk di teras jika aku sedang di desa.
Sore ini aku tak di situ, melainkan di kota, kakakkulah yang duduk di situ, di sebuah kursi kayu nan tua. Seingatku kursi itu buatan bapak dikala aku masih SD. Dan tiba-tiba mata kakakku melotot kaget, seorang pria tua muncul di hadapannya mendadak. Ya, bapak. Tak disangka dia datang jauh dari kota. Ia muncul dengan baju kemejanya, celana kain berwarna hitam dan topi yang khas miliknya.
"Bapak," Kata kakakku kaget.
"Sama siapa," lanjutnya.
"Saya sendiri. Numpang di hartop," jawab bapak menyebut hartop untuk sebutan mobil ofroad.
"Saya kaget, bapak datang tak memberi kabar," kata kakak.
Kebiasaan hidup bapak memang begitu. Suka bikin orang terkejut dan mengagetkan, entah dengan cara dia sendiri, dari hal-hal yang sederhana. Tapi kami anak-anaknya selalu senang dengan kejutan bapak.
Ketika kami anak-anaknya masih kecil, bapak kerap pulang dari kebun dengan aneka buah-buahan yang ia bawa. Semua itu tak pernah kami sangka. Bapak memang pandai memberi kejutan. Termasuklah sore itu, bahkan semua tetangga pun kaget.Bagaimana tidak, bapak yang sudah dua pekan meninggalkan desa pergi berobat ke kota karena sakit, tiba-tiba muncul dengan wajah berseri-seri sore itu.
"Memang anakmu bilang apa, sudah sehat," kata ibu bertanya pada bapak.
Harapan ibu sesungguhnya, bapak akan tinggal di kota bersamaku, berobat lebih lama atau setidaknya kontrol ke dokter setiap minggu agar benar-benar sehat. Dan bukan malah pulang ke desa.
"Sudah, tidak apa-apa," jawaban bapak kala itu. Dia menjelaskan bahwa dirinya baik-baik saja. Dan akan kembali kontrol ke dokter nantinya.
Ibu tampak kurang senang, harapannya bapak akan berlama-lama di kota agar bisa berobat lebih banyak waktu ke dokter. Sebab jika di desa, mau berobat kemana. Jangankan dokter, perawat pun tak ada. Di sana hanya ada bidan Pustu. Jarak yang jauh dari kota pun membuat orang-orang selalu mengeluh dengan yang namanya layanan kesehatan. Amat sulit mengakses rumah sakit. Kita harus turun naik gunung dengan motor, ofroad atau harus rela jalan kaki dikala hujan.
"Iya, tidak apa-apa, saya akan kembali nanti ke kota untuk berobat," kata bapak, sambil meyakinkan ibu dan kakakku yang perempuan bahwa dia baik-baik saja. (*)
BERSAMBUNG

Comments
Post a Comment